Don’t Worry Failing!

Be brave to face the reality of riding storms in your life. Successful people like Canfield, Edison, and Kiyosaki, always articulate positively about failingCanfield views failing is an opportunity to make attempts. Edison believes that failures are connected to how close we’re to succeed.  And interestingly, Kiyosaki sees failure as an essential part of the learning curve, thus failing is needed to become a learned person. Our experiences talk louder than these words. Don’t worry about failing, keep trying! Keep progressing! Success is just around the corner.

 

Don’t worry about failures,

Worry about the chances you miss

when you don’t even try.

 by  Jack Canfield

 

Many of life’s failures are people

who did not realize how close they were to success

when they gave up

by Thomas Edison

 

Successful people don’t fear failure

but understand that it’s necessary to learn and grow from

by Robert Kiyosaki

Advertisements

Siapa Sebenarnya DiriMu?

Satu soalan ingin ku tanya pada mu.

Siapa Sebenarnya DiriMu?

Mengapa? Mengapa harus dirimu tidak tuturkan keputusan mu itu sendiri. Dengan suara mu. Mengapa dirimu memilih hanya titipkan keputusan mu melalui message? Sedangkan baru sahaja dirimu meletakkan bicara telefon denganku. Bukankah tindakan itu bercanggah dengan kewibawaan mu? Bukankah itu mengundang prasangka tidak baik dalam diriku terhadapmu?

Sedangkan sudah ku tahu inilah keputusanmu sejak dari awal pagi pada hari tu. Allah anugerahkan petunjuknya kepada mereka yang benar mendahului percaturan mu. Kamu lupa Allah? Allah itu pelindung kepada mereka yang diinaya?

Dirimu lupa? Engkau merancang, tapi ada Allah Azawajalla yang Mengurus dan Merancang segalanya. Mengawasimu, memerhatikan mu, mendengar bicara hati mu setiap detik, merekodkan setiap percaturanmu. Jangan kau lupa, Allah juga mengukur setiap pahala dan doa mu dan aku atas setiap tindak tanduk yang halus dan kasar.

Aku sungguh tidak mengerti! Apa tujuanmu sebenarnya? Apa matlamatmu? Adakah dirimu bersama Allah Azawajalla ketika berterus terang bersama message mu itu? Atau dirimu diselubungi nafsu materialistik dan perancangan habuan-habuanmu? Atau dirimu menurut ikutan nasihat sahabatmu semata? Kemana hala tuju semua ini?

Kekal dalam ingatan ku, ” Hati-hati dengan penunggang agama” pesananmu. Diketika ini seolah-olah bayangan pesanan itu sesuai dengan dirimu dan sahabatmu. Bak kata pepatah melayu, ‘Kerana nila setitik, Habis susu sebelanga‘ .

Sesungguhnya aku tersalah mengerti siapa dirimu sebenarnya. Di lubuk soleh mana pun dirimu berada! Seputih manapun jubah yang kau sarungkan! Pangkat agama mana yang kau banggakan itu! Sebanyak manapun amal-amal baik yang kau sebut-sebutkan padaku! Bait-bait nasihat Islamik manapun kau berpesan pada ku! Akhlak mulia yang kau pertontonkan terhadap Ayahanda ku dan diriku! Sebenarnya aku keliru siapa dirimu sebenarnya. Siapa Sebenarnya DiriMu?

Walau apapun, kesemua ini, aku yakin, ujian Allah semata-mata. Berjaya mengaburkan hati dan perasaan ku terhadap akhlak dan dirimu yang sebenar. Aku gagal. Gagal mengenal siapa dirimu sebenarnya. SubhanAllah. Allah lah yang mengabarkan segala-segalanya tentang mu. Sesungguhnya Aku Berlindung dengan nama Allah Maha Pengasih dan Penyayang daripada syaitan yang direjam dan orang-orang yang zalim.

Siapa sebenarnya dirimu? Tidak kau takut dengan Allah Azawajalla yang senantiasa memerhati hambaNYA-hambaNYA?

Diketika ini aku amat bersyukur kepada Allah Yang Mana Penyayang dan Pengasih menutup pintu mu. Sungguh aku bersyukur. Alhamdulillah. Semoga Allah memberi kekuatan kepadaku untuk terus melangkah. Melangkah tinggalkan dirimu dan bayang-bayangmu di hujung benua sana. Tiada ku ingin melintasi lagi.

Jealousy Kills

In the past weeks, I learn a hard life lesson

Jealousy kills love?

But on the second thought

Jealousy may be a test to true love? 

If your loved ones truly love you

The best of you and the bad of you

Then He/She is able to forgive you? 

What do you think? About how jealousy impact your relationship with loved ones? 

Talking with the Sky

I couldn’t stay home that day. I had one look at the bluish sky with its cotton white clouds drifting away. From my study window and sliding door, I saw them. I knew it. Feeling unbearable, I can’t stay home. My heart was aching! Aching to devour the bluish skies out there … To feel the strong wind, to listen to the fluttering leaves as the gush of wind passing through them over and over them. To celebrate the freedom that I have in my soul. And wanting to be closer to nature. To be in nature. To touch the life. Alhamdulillah Yaa Allah. Yaa Rahmaan. Yaa Rahiim.

At one point while standing the strong wind, tears were so close to my eyes.  There was a growing feeling of how grateful I am.  To own two eyes that differentiate colors of nature. To possess two ears that allow me to hear the sounds of nature that I come to love.  To own a heart, that calmly beating the same pace as nature’s heart. To own a soul to feels the blessing. The nature seems to understand how  I felt. The strong wind subdued, leaving only the soft one touching my face with a silky touch but light as feathers. As if telling me, We appreciate you join us at this moment. Alhamdulillah Yaa Allah. Yaa Rahmaan. Yaa Rahiim. فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

11233588_840101839371731_7191300515029431692_o

Return to the moment … there I was, with the camera at hand at the green garden. Standing the wind. With the two lenses. Undecided which one to give priority to. I truly had to make a decision. Life is all about making decisions. Don’t you agree?

Feasting my eyes on the greener carpet grass compares to early spring. The beautiful flowers and plants in front of me. Dancing with the wind that sometimes soft sometimes hard. Lost in thoughts. My brain was still thinking about how should I continue to write to express what I truly want to say on the journey …