Milikmu Ketetapan Allah

Tiada yang Allah tetapkan untuk mu akan menjadi milik orang lain. 

Alhamdulillah.

Jadi usah bimbang tentang rezkimu. Semuanya Allah sudah tentukan, sekiranya ingin perbaikinya, minta lah pada Allah. Berdoalah. Merendah diri meminta pada Allah yang SATU. Allah yang menciptakan mu. Allah yang menanugerahkan padamu rezky. Allah yang mentadbir keseluruhan kehidupan mu dan makhluk-makhluk lain dan apa sahaja yang berada dilangit dan di bumi dan di antara kedua-duanya. Janji Allah benar.

Jangan minta dari sesuatu atau seseorang selain Allah. Itu syirik. Allah Maha Penyayang dan Pengasih. Tetapi hukuman Allah itu berat. Janji Allah benar.

Advertisements

Kehinaan Manusia, Kemulian Allah

Sekiranya kita diuji sehingga manusia memandang hina terhadap kita,

INGAT,

Sabar. Sabar dengan mendirikan solat. Dalam solat itu kita memuji dan membesarkan Allah. Dalam solat itu kita menyerah diri pada Allah melalui ujian kehinaan itu. Dengan solat itu kita mengakui kita ini hamba Allah dan ketidakupayaan kita kecuali dengan kekuatan dan pertolongan yang Allah berikan.

Jangan putus asa dengan rahmat dan pertolongan Allah. Kita juga kena ingat, susun atur kehidupan kita sudah tertulis oleh Allah Ta’ala. DIAlah Pencipta daripada penciptaan kita sehinggalah hembusan nafas kita yang terakhir. Kita ini semua dalam pentadbiran Allah. Kau, dia dan mereka semua juga dalam pentadbiran Allah Ta’ala. Tiada apapun yang kita lalui sepanjang kehidupan kita, diluar daripada pengetahuan dan pembalasan Allah Ta’ala. Semuanya dalam pentadbiran Allah.

Jadi ingat, kehinaan manusia lain terhadap kita, amat kecil berbanding dengan kemuliaan Allah terhadap kesabaran dan redha kita mengharungi ujianNYA.

Jadi sebab itu, penting untuk kita raih pandangan mulia Allah dengan setulus hati. Pandangan mulia manusia itu hanyalah semata-mata hadiah daripada redha dan rahmat Allah semata-mata.

Siapa Sebenarnya DiriMu?

Satu soalan ingin ku tanya pada mu.

Siapa Sebenarnya DiriMu?

Mengapa? Mengapa harus dirimu tidak tuturkan keputusan mu itu sendiri. Dengan suara mu. Mengapa dirimu memilih hanya titipkan keputusan mu melalui message? Sedangkan baru sahaja dirimu meletakkan bicara telefon denganku. Bukankah tindakan itu bercanggah dengan kewibawaan mu? Bukankah itu mengundang prasangka tidak baik dalam diriku terhadapmu?

Sedangkan sudah ku tahu inilah keputusanmu sejak dari awal pagi pada hari tu. Allah anugerahkan petunjuknya kepada mereka yang benar mendahului percaturan mu. Kamu lupa Allah? Allah itu pelindung kepada mereka yang diinaya?

Dirimu lupa? Engkau merancang, tapi ada Allah Azawajalla yang Mengurus dan Merancang segalanya. Mengawasimu, memerhatikan mu, mendengar bicara hati mu setiap detik, merekodkan setiap percaturanmu. Jangan kau lupa, Allah juga mengukur setiap pahala dan doa mu dan aku atas setiap tindak tanduk yang halus dan kasar.

Aku sungguh tidak mengerti! Apa tujuanmu sebenarnya? Apa matlamatmu? Adakah dirimu bersama Allah Azawajalla ketika berterus terang bersama message mu itu? Atau dirimu diselubungi nafsu materialistik dan perancangan habuan-habuanmu? Atau dirimu menurut ikutan nasihat sahabatmu semata? Kemana hala tuju semua ini?

Kekal dalam ingatan ku, ” Hati-hati dengan penunggang agama” pesananmu. Diketika ini seolah-olah bayangan pesanan itu sesuai dengan dirimu dan sahabatmu. Bak kata pepatah melayu, ‘Kerana nila setitik, Habis susu sebelanga‘ .

Sesungguhnya aku tersalah mengerti siapa dirimu sebenarnya. Di lubuk soleh mana pun dirimu berada! Seputih manapun jubah yang kau sarungkan! Pangkat agama mana yang kau banggakan itu! Sebanyak manapun amal-amal baik yang kau sebut-sebutkan padaku! Bait-bait nasihat Islamik manapun kau berpesan pada ku! Akhlak mulia yang kau pertontonkan terhadap Ayahanda ku dan diriku! Sebenarnya aku keliru siapa dirimu sebenarnya. Siapa Sebenarnya DiriMu?

Walau apapun, kesemua ini, aku yakin, ujian Allah semata-mata. Berjaya mengaburkan hati dan perasaan ku terhadap akhlak dan dirimu yang sebenar. Aku gagal. Gagal mengenal siapa dirimu sebenarnya. SubhanAllah. Allah lah yang mengabarkan segala-segalanya tentang mu. Sesungguhnya Aku Berlindung dengan nama Allah Maha Pengasih dan Penyayang daripada syaitan yang direjam dan orang-orang yang zalim.

Siapa sebenarnya dirimu? Tidak kau takut dengan Allah Azawajalla yang senantiasa memerhati hambaNYA-hambaNYA?

Diketika ini aku amat bersyukur kepada Allah Yang Mana Penyayang dan Pengasih menutup pintu mu. Sungguh aku bersyukur. Alhamdulillah. Semoga Allah memberi kekuatan kepadaku untuk terus melangkah. Melangkah tinggalkan dirimu dan bayang-bayangmu di hujung benua sana. Tiada ku ingin melintasi lagi.

Walk the Journey*

“When life gives you lemon, make lemonade”

Relapse. Something that I’m struggling with. Today, yesterday and the other day, relapse knock me off again. If this happens I’m out of spirit to go to work. I feel drain to drag myself to work and to do anything. Stuck in the house, in bed, under the blanket. Soo gloomy feeling surrounding me. The feeling that is hard to describe. Only those who experience depression is able to feel it. Why can’t I departed with the blanket? Dark room stays like that even though, the night long gone. The sun is shining bright outside. 

Conversing with myself. Shucks! The effective strategy dealing with my relapse has past due! Is void for now. Again, I have to look for alternative strategies to deal with it. See, it is not that you don’t realize when you experienced shut-down. Perhaps this is just a minor shutdown. Praying so hard. 

Walk the journey. One thing that I want to do now enduring this short relapse is W.R.I.T.E! Yes, write. Write my brain out. Write my heart out. Write my frustration down. Write what’s bottled in me for the past months. 

Writing. At home. On this small varnished wooden dinner table. Ceiling fan is making noise. Unbelievably, delightful chirping of birds outside the sliding door add on to the squeaking fan. These are clutters of disturbance. Nevertheless, I’m not disturbed by them. Possessed in the desire to be heard. I’m tapping the keyboard a way, letting what ever cross my mind building the words, sentences and paragraphs expressing my thoughts, feelings and despair. I’m trying to practice positive thoughts in walking this journey. I love this one phrase “When life gives you lemon, make lemonade”. My encounter with this phrase in the most unexpected spot, the cheap grocery bag. This phrase moves my heart, and find its way naturally into my soul.

What am I doing actually through this writing? Attempting writing like a pro. Ghezz. Sometimes I feel like, ‘How the hell good writers put together words to create unforgettable sentences that trigger goosebumps and awe in you? Why can’t I write the same? What sorts of talents they have? Is it possible I develop the talents too? How do you create develop your talent to become a prolific writer. I love this word – prolific writer. Perhaps walking this journey, I’m able to transform my escapism to depression relapse into endless experiments to develop my talent as prolific writer? Why NOT since a wise man will react the same to life challenge ‘ When life gives you lemon, make lemonade? ‘

How do you develop your talent in writing? 


*This is a message to myself. I know it’s funny. But it is essential for me to beat relapse, thus, progress. 

L . O . N . E . L . Y

Six words
Suffocated meaning
Unbearable feeling
Wistful futile thoughts

Boundless stormy ocean
Endless silence
Eternal isolation
Bottomless darkness pit

Unheard
Unspoken
Hidden sights

Kills smiles
Assassinate inspirations
Slaughter the will to live

A soft killer
Devil is smiling

God has created you stronger than loneliness.
Don’t let it argue with you. Beat it to death. Walk free.